Jokowi Mantu, Ritus ‘Cethik Geni’ Awal Hajatan Keluarga Dalam Tradisi Budaya Jawa

- Sabtu, 3 Desember 2022 | 09:24 WIB
INSTALASI PAWON - Warga melihat instalasi pawon kayu dalam Festival Kampung Sedjarah di  Kelurahan Sumbersari, Kota Malang beberapa waktu lalu.  (KLIKTIMES.COM/HAYU YUDHA   )
INSTALASI PAWON - Warga melihat instalasi pawon kayu dalam Festival Kampung Sedjarah di  Kelurahan Sumbersari, Kota Malang beberapa waktu lalu. (KLIKTIMES.COM/HAYU YUDHA  )

 

Oleh : M. Dwi Cahyono

Salah satu ritual diantara serangkaian ritus kawiwahan (pernikahan) putra ke-3 Presiden RI Joko Widodo, yakni Kaesang Pangarep yang berdedaup (menikah) dengan Erina Sofia Gudono akan digelar pada tanggai 10 Desember 2022.

Diselenggarakan menurut adat Jawa, dimana terdapat serangkaian ritus. Salah satu ritus tersebut adalah apa yang dinamai dengan Cethik Geni, Adang Sepisan (menyalakan api, memasak untuk kali pertama). Apa dan mengapa dilakukan ritus cethik geni pada hajatan nikah? Berikut diberikan paparan ringkas mengenai ritus-ritus yang berkenaan dengan api.

Sebutan cethik geni adalah perkataan di dalam bahasa Jawa untuk menyebut penyalaan api pada tungku perapian. Suatu tindakan terawal dari rangkaian kegiatan di dapur guna memenuhi kebutuhan keluarga akan makan dan minum.

Api adalah unsur fisik alamiah, satu diantara lima unsur pembentuk bhawana (bhuana hageng ataupun alit), yang dapat menjadikan makanan dan minuman berada dalam kondisi ‘masak atau tanak’, sehingga layak untuk dikonsumsi oleh para anggota keluarga. Untuk itulah, maka konon setiap keluarga membikin tungku perapian di dapur (pawonan atau tumangan) untuk melakukan kegiatan memasak. Pawonan bahkan di sejumlah warga etnik pada antero Nusantara diposisikan sebagai ‘pujering Imah (inti rumah tinggal)’.

Penyalaan api di tungku perapian itulah yang dalam bahasa Jawa dinamai dengan ‘cethik geni’. Dengan bernyalanya api di tungku perapian itu, keluar asap, yang kepulnya membumbung di dalam dapur, lalu keluar melalui celah-celah tatanan genting, sehingga dari tapak luar terlihat dapur itu mengepulkan asap (dapur ngebul).

Baca Juga: Pengenaan Cincin pada Masa Jawa Kuna

Secara simbolik, dapur ngebul menjadi petunjuk bahwa kehidupan pada keluarga yang  bersangkutan berlangsung. Dapur ngebul menjadi pertanda ‘hidup’, sebaliknya dapur tak ngebul jadi petanda ‘kematian’ hidup. Pada pagi hari, atau terkadang sore hari, dapur-dapur keluarga di pedesaan  mengebulkan asap, sebagai petunjuk bahwa desa- desa itu memiliki ketahanan hidup.

Lantaran dapur, atau lebih khusus lagi tungku api, adalah inti kehidupan keluarga, maka ritual dalam lingkup keluarga dilakukan di dapur dalam hubungannya dengan tungku. Pada masyarakat Tengger misalnya, ketika berlangsung upacara perkawinan (walagara), mempelai nikah melakukan prosesi mengelilingi tungku sebanyak 3X searah dengan jarum jam (pradhaksina). Lebih awal lagi, diberikan sesajian (offering) khusus untuk ‘sing among Geni (Yang Menguasai Api)’.

Halaman:

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Madrim dan Desain Sampul Buku

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:32 WIB

Pemindahan IKN RI dari Jakarta ke PPU

Jumat, 27 Januari 2023 | 14:38 WIB

Relokasi Ibu Kota Negara pada Lintas Masa

Jumat, 27 Januari 2023 | 14:26 WIB

Kutai Muara Kaman, Titik Nol Nusantara Lama

Jumat, 27 Januari 2023 | 14:16 WIB

Malang Itu Ngalam Malati

Jumat, 27 Januari 2023 | 13:51 WIB

Deep Purple 48 tahun silam

Kamis, 26 Januari 2023 | 10:48 WIB

Citra Pasukan Kavaleri pada Era Keemasan Majapahit

Senin, 23 Januari 2023 | 18:18 WIB

Gambaran Pasukan Kavaleri di Relief Candi

Senin, 23 Januari 2023 | 18:10 WIB

Masa Pembangunan Atap Tumpang di Candi Jajaghu

Senin, 23 Januari 2023 | 10:08 WIB

Jejak Keberadaan Atap Meru pada Relief Candi Jajaghu

Senin, 23 Januari 2023 | 10:04 WIB

Kuasa Media dan Tragedi Anomali Perilaku Anak Bangsa

Sabtu, 21 Januari 2023 | 13:50 WIB

Kegaduhan Penyebutan Fira'un

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:00 WIB

Ide Dasar dan Perangkat terbang Lintas Masa

Kamis, 19 Januari 2023 | 21:36 WIB
X