Amuk Luhuring Luhur

- Rabu, 23 November 2022 | 22:10 WIB
Malang Black Sunday.HO/KLIKTIMES.COM
Malang Black Sunday.HO/KLIKTIMES.COM


Oleh Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES

Sejak Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang 1 Oktober 2022; hingga saat ini, tak henti-hentinya Aremania terus bergerak dan berjuang menuntut keadilan #UsutTuntas. Bahkan hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan ke depan. Aremania telah sepakat dan bersatu padu untuk terus bergerak dan berjuang menuntut keadilan #UsutTuntas. Kenapa energi Aremania seolah tiada habis-habisnya? Dari mana asalnya seluruh energi pergerakan dan perjuangan tersebut?

Tentu saja, semua pergerakan dan perjuangan tersebut membutuhkan energi, materi, waktu, pikiran, semangat, daya juang dan stamina yang sangat luar biasa. Sampai saat ini, tidak ada satupun pihak yang sangat menonjol dan dominan sebagai sumber dari segala pergerakan dan perjuangan yang dilakukan.

Energi itu muncul dari berbagai sumber, bertebaran dan bersebaran muncul dari mana-mana. Bahkan banyak juga yang muncul dari luar daerah Malang Raya. Semuanya berkelindan saling jalin-menjalin, saling memperkuat, saling mendukung dan saling menghidupi.

Bahkan jika diamati dengan Mata Bathin, energi itu muncul dari Sumber Amuk LUHURING LUHUR dari Tanah Pemberani Bhumi Arema.

Apakah Para Leluhur Tanah Pemberani Bhumi Arema akan diam saja melihat 135 (+2) orang anak cucunya dibantai nyawanya, dijadikan tumbal untuk menutupi kebiadaban manusia laknat yang berseragam Polisi? Tentu saja tidak! Sekali-kali tidak! Amuk LUHURING LUHUR itu sangat terasa dan bisa dilihat langsung oleh orang-orang yang sering Sobo Punden di Malang Raya.

Baca Juga: Presiden FIFA: Kanjuruhan Disaster Hari Gelap untuk Sepak Bola, Tragedi di Luar Pemahaman

Mereka membaca, merasakan dan bahkan melihat langsung energi itu. Tapi mereka memilih diam. Bukan jenis diam yang tak bergerak. Tapi jenis diam dalam pengorbanan yang bergerak aktif. Jika sudah begitu, jangankan hanya harta dan benda, jiwa dan raga sekalipun pasti juga diserahkan dan dikorbankan.

Amuk LUHURING LUHUR inilah yang sangat jarang bisa dilihat oleh orang-orang yang membaca, melihat dan mendengar berbagai aktivitas pergerakan dan perjuangan Aremania, di dalam berbagai bentuk aktivitas demonstrasi atau aksi.

Maka, jangan heran jika energi pergerakan dan perjuangan Aremania seolah-olah tidak akan pernah habis. Bahkan terus bergelombang pasang membesar. Terus menyala berkobar-kobar! Ini bukan hanya Amuk Aremania, tetapi juga Amuk LUHURING LUHUR dari Tanah Pemberani Bhumi Arema.

Halaman:

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marjinalisasi Masyarakat Sipil dalam Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:24 WIB

Kekuatan dan Partisipasi Aktif Individu

Senin, 23 Januari 2023 | 09:19 WIB

Marjinalisasi, Residu Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:13 WIB

Bayi Ajaib, Seram dan Sadis Seperti Versi 1982

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:42 WIB

Balada Si Roy, Dari Buku ke Layar Bioskop

Jumat, 20 Januari 2023 | 23:27 WIB

Pariwisata Ekonomi Kreatif

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:51 WIB

Annual Report Museum Musik Indonesia 2022

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:41 WIB

The Cats: Maribaya Bagai Himalaya

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:33 WIB

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Elit, Dan Untuk Elit?

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:08 WIB

Mindset, Memikirkan Gedung MCC Kota Malang

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:42 WIB

Banalitas Kekuasaan Dalam Pusaran KONI Kota Malang

Rabu, 11 Januari 2023 | 21:51 WIB

Komponis Musik Klasik

Sabtu, 7 Januari 2023 | 11:09 WIB

Sahabat UMKM Kota Malang

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:16 WIB

Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:11 WIB
X