Desa Ngadas dan Kualitas SDM Wisata

- Rabu, 16 November 2022 | 10:32 WIB
NGADAS-: Kondisi sehari-hari anak-anak Desa Ngadas.HO/KLIKTIMES.COM
NGADAS-: Kondisi sehari-hari anak-anak Desa Ngadas.HO/KLIKTIMES.COM

Oleh Silvi Asna Prestianawati, SE, ME

Upacara Karo merupakan perayaan besar masyarakat Desa Ngadas yang memiliki histori tentang abdi kanjeng nabi yang bernama Setya dan abdi dari Aji Saka yang bernama Setuhu.

Dalam kegiatan ini, berbagai kegiatan kesenian budaya hingga tradisi ritual juga dilakukan seperti doa petren, kauman, tayuban, tumpeng gede, sesanti, sedekah panggonan (tamping), dan berakhir dengan ritual sadranan serta ojung. Saat melakukan upacara Karo ini, masyarakat Tengger biasanya memakai pakaian baru dengan diawali upacara ritual di rumah kepala desa setempat.

Warga yang membawa aneka makanan ditata sedemikian rupa. Upacara ritual ini dipimpin oleh seorang dukun desa. Makanan yang sudah mendapatkan doa dan mantera itu kemudian diserahkan kepada kepala desa dan dibagikan kepada masyarakat sekitarnya. Sedangkan sebagian lagi digunakan sebagai sesembahan, lalu berziarah ke makam leluhur.

Selain kualitas dan ragam wisata, sumber daya manusia yang mengelola wisata tersebut juga menjadi penentu keberhasilan dan keberlangsungan sebuah sektor pariwisata. Berdasar hasil penelitian Yulianah (2021) bahwa sumber daya manusia sebagai pengelola pariwisata termasuk tour guide merupakan komponen penting dalam menciptakan brand image yang kuat para wisatawan. Maka dari itu, peneliti membantu Desa Ngadas melalui penyusunan modul pelayanan pariwisata Desa Ngadas.

Sebagai pemandu wisata termasuk pengelola wisata, masyarakat juga harus terbiasa menerapkan 4S yakni senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Mengingat pengunjung wisata Desa Ngadas tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri maka mental pemandu wisata yang ramah dan komunikatif sangat dibutuhkan.

Baca Juga: Desa Ngadas: Desa Wisata Sarat Budaya

Disampaikan pula, bahwa pemandu wisata sebaiknya tidak hanya fokus pada outer beauty tetapi juga pada inner beauty. Hal ini tentunya untuk menciptakan rasa nyaman dan kesan ramah yang tulus yang mampu menciptakan suasana yang menyenangkan bagi para wisatawan. Penampilan maupun perilaku masyarakat, pemandu wisata dan pengelola wisata akan mempengaruhi citra, kinerja, dan reputasi wisata.

Termasuk penggunaan bahasa seperti pemilihan kata yang tepat seperti menjawab “dengan senang hati” jika ada pengunjung wisata yang mengucapkan terima kasih. Tidak hanya bahasa, gesture yang baik juga sangat penting untuk diimplikasikan seperti menegakkan badan dengan mata yang bersinar dan jujur, wajah yang berseri dan bersahabat ketika berinteraksi dengan wisatawan. Kedepan, akan dilanjutkan pelatihan pengelolaan atau manajemen wisata seperti keuangan, strategi promosi,dan penyusunan renstra wisata di Desa Ngadas. 

*Dosen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Brawijaya

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marjinalisasi Masyarakat Sipil dalam Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:24 WIB

Kekuatan dan Partisipasi Aktif Individu

Senin, 23 Januari 2023 | 09:19 WIB

Marjinalisasi, Residu Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:13 WIB

Bayi Ajaib, Seram dan Sadis Seperti Versi 1982

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:42 WIB

Balada Si Roy, Dari Buku ke Layar Bioskop

Jumat, 20 Januari 2023 | 23:27 WIB

Pariwisata Ekonomi Kreatif

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:51 WIB

Annual Report Museum Musik Indonesia 2022

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:41 WIB

The Cats: Maribaya Bagai Himalaya

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:33 WIB

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Elit, Dan Untuk Elit?

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:08 WIB

Mindset, Memikirkan Gedung MCC Kota Malang

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:42 WIB

Banalitas Kekuasaan Dalam Pusaran KONI Kota Malang

Rabu, 11 Januari 2023 | 21:51 WIB

Komponis Musik Klasik

Sabtu, 7 Januari 2023 | 11:09 WIB

Sahabat UMKM Kota Malang

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:16 WIB

Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:11 WIB
X