Cita-cita Prof Dr I Wayan Rai S, Jadi Dokter

- Minggu, 6 November 2022 | 23:48 WIB
Prof Dr I Wayan Rai S saat menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali yang diserahkan Gubernur Bali Wayan Koster beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Dokumen Prof Rai.
Prof Dr I Wayan Rai S saat menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali yang diserahkan Gubernur Bali Wayan Koster beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Dokumen Prof Rai.


KLIKTIMES.COM | DENPASAR-Sejak menempuh pendidikan di SD 3 Ubud hingga SMP Negeri Ubud, anak pertama dari tiga bersaudara ini selalu menjadi siswa dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Oleh karena itu, setelah tamat SMP pada tahun 1971, ia bercita-cita dapat melanjutkan sekolah ke SMA agar bisa menjadi dokter.

Namun, setelah menyampaikan keinginan tersebut pada kedua orang tuanya, ayah dan ibu Wayan Rai menyatakan tidak sanggup untuk membiayai pendidikannya jika ingin menjadi dokter.

Dengan kegiatan sehari-hari sebatas menjual kelapa, kedua orang tuanya menyampaikan paling-paling hanya mampu membiayai sekolah hingga jenjang SMA. "Saya saat itu sedih sekali, dan sempat frustrasi karena tidak mampu melanjutkan ke SMA," ujarnya

Di tengah rasa kecewanya, saat Hari Galungan, Wayan Rai bersama sejumlah teman, lalu bermain ke objek wisata Goa Gajah. Di salah satu warung di dekat Goa Gajah ia melihat foto-foto dua seniman dari Ubud dan Peliatan, yakni Cokorda Agung Mas dan Wayan Gandra sedang mengajar di Los Angeles.

Saat itu, Made Roja, sang teman menyeletuk bahwa Wayan Rai pun bisa mengikuti jejak ke dua tokoh seni itu ke Amerika Serikat karena Wayan Rai juga mahir magambel. Dari peristiwa itu akhirnya ia pun kembali bersemangat dan memutuskan melanjutkan pendidikan ke Kokar (Konservatori Karawitan) Bali di Kota Denpasar.

Baca Juga: Prof Dr I Wayan Rai S, Reinkarnasi Guru Kantun Tokoh Seniman dari Ubud

Ketika masuk di Kokar Bali (1971—1974), ia terus berjuang agar selalu menjadi yang terbaik. Alhasil, Wayan Rai selalu meraih peringkat pertama di kelas dan terpilih menjadi pemain basket inti dan penabuh inti yang mewakili Kokar Bali dalam berbagai ajang kegiatan.

Meskipun telah bersekolah di sekolah seni, cita-citanya untuk menjadi dokter tak surut. "Setiap melihat dokter, hati saya selalu gelisah," ucapnya.

Lagi-lagi, kondisi ekonomi yang serba kekurangan, menyebabkan Wayan Rai tak bisa mengikuti jejak teman-temannya yang melanjutkan pendidikan tinggi ke luar Bali. Ia pun memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar di Jurusan Tari pada tahun 1974.

Untuk membayar uang kuliah, sejak pukul 07.00-13.00 Wita, ia harus bekerja di Komdak (Komando Daerah Kepolisian) Nusa Tenggara.

Halaman:

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marjinalisasi Masyarakat Sipil dalam Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:24 WIB

Kekuatan dan Partisipasi Aktif Individu

Senin, 23 Januari 2023 | 09:19 WIB

Marjinalisasi, Residu Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:13 WIB

Bayi Ajaib, Seram dan Sadis Seperti Versi 1982

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:42 WIB

Balada Si Roy, Dari Buku ke Layar Bioskop

Jumat, 20 Januari 2023 | 23:27 WIB

Pariwisata Ekonomi Kreatif

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:51 WIB

Annual Report Museum Musik Indonesia 2022

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:41 WIB

The Cats: Maribaya Bagai Himalaya

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:33 WIB

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Elit, Dan Untuk Elit?

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:08 WIB

Mindset, Memikirkan Gedung MCC Kota Malang

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:42 WIB

Banalitas Kekuasaan Dalam Pusaran KONI Kota Malang

Rabu, 11 Januari 2023 | 21:51 WIB

Komponis Musik Klasik

Sabtu, 7 Januari 2023 | 11:09 WIB

Sahabat UMKM Kota Malang

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:16 WIB

Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:11 WIB
X