Prof Dr I Wayan Rai S, Ya Etnomusikolog Ya Penjual Pisang Goreng

- Minggu, 6 November 2022 | 23:39 WIB
Garapan Tari Bali Dwipa Jaya, tari kebesaran Pemerintah Provinsi Bali yang dikonseptori oleh Prof Dr I Wayan Rai S yang dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali. ANTARA/istimewa.   
Garapan Tari Bali Dwipa Jaya, tari kebesaran Pemerintah Provinsi Bali yang dikonseptori oleh Prof Dr I Wayan Rai S yang dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali. ANTARA/istimewa.  

 

KLIKTIMES.COM | DENPASAR- Tari Bali Dwipa Jaya yang menjadi tari kebesaran Pemerintah Provinsi Bali menjadi salah satu garapan yang tidak saja akan selalu diingat oleh masyarakat Bali, namun juga memberikan kenangan tersendiri bagi Prof Dr I Wayan Rai S, MA, sang konseptor dan komposer tari tersebut.

Bagi I Wayan Rai, tari yang pertama kali dibawakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2012 itu menjadi salah satu karya monumentalnya. Tari ini digarap bersama sang istri, Dr I Gusti Ayu Srinatih, SST, MSi (almarhum).

Sosok I Wayan Rai dikenal sebagai rektor. Dia pernah memimpin ISI Denpasar dan Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua.

Sebagai seniman sekaligus akademisi seni, dia telah banyak melahirkan karya seni, makalah dan penelitian di tingkat lokal Bali, nasional dan internasional. I Wayan Rai dikenal sebagai seorang etnomusikolog, komposer dan peneliti musik bangsa-bangsa.

Bakat dan minat pada seni pria kelahiran Ubud, Kabupaten Gianyar pada 26 Mei 1955 itu sudah tampak sejak kecil. Walaupun, kedua orang tuanya I Made Cemped dan Luh Sampun, yang berprofesi sebagai petani, tak memiliki bakat seni.

Baca Juga: Belajar Bijak dari Tragedi di Kala Pesta

Namun, berdasarkan penuturan kedua orang tuanya, bakat seni Wayan Rai kemungkinan muncul karena yang "ngidih nasi" atau bereinkarnasi adalah seorang tokoh seniman dari Ubud, Guru Kantun.

Guru Kantun, leluhur Wayan Rai, merupakan tokoh seniman besar, sastrawan dan perbekel (kepala desa) pertama di Ubud. Guru Kantun sekitar tahun 1.900-an dipercaya bertanggung jawab terhadap urusan seni budaya di Puri Ubud, Kabupaten Gianyar.

Saat ia kecil, di Ubud bermukim sejumlah pelukis asing ternama seperti Arie Smith, Rudolf Bonet, dan Walter Spies yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya.

Halaman:

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marjinalisasi Masyarakat Sipil dalam Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:24 WIB

Kekuatan dan Partisipasi Aktif Individu

Senin, 23 Januari 2023 | 09:19 WIB

Marjinalisasi, Residu Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:13 WIB

Bayi Ajaib, Seram dan Sadis Seperti Versi 1982

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:42 WIB

Balada Si Roy, Dari Buku ke Layar Bioskop

Jumat, 20 Januari 2023 | 23:27 WIB

Pariwisata Ekonomi Kreatif

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:51 WIB

Annual Report Museum Musik Indonesia 2022

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:41 WIB

The Cats: Maribaya Bagai Himalaya

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:33 WIB

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Elit, Dan Untuk Elit?

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:08 WIB

Mindset, Memikirkan Gedung MCC Kota Malang

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:42 WIB

Banalitas Kekuasaan Dalam Pusaran KONI Kota Malang

Rabu, 11 Januari 2023 | 21:51 WIB

Komponis Musik Klasik

Sabtu, 7 Januari 2023 | 11:09 WIB

Sahabat UMKM Kota Malang

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:16 WIB

Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:11 WIB
X