Sumpah Pemuda, Tragedi Kemanusiaan dan Arema

- Jumat, 28 Oktober 2022 | 20:19 WIB
MALANGKUCECWARA-Malang, kamu tidak sendirian, Justice for Kanjuruhan ! HO/KLIKTIMES.COM
MALANGKUCECWARA-Malang, kamu tidak sendirian, Justice for Kanjuruhan ! HO/KLIKTIMES.COM

 


Oleh Wibie Maharddhika

Memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2022 ini diwarnai dengan baluran emosi tragedi kemanusiaan yang menghentak semesta. Seluruh mata dunia memandang bangsa Indonesia atas peristiwa yang bagi mereka dianggap berada “di luar nalar”. Dengan kata lain dunia menganggap tragedi sepakbola di GOR Kanjuruhan Malang adalah sebuah kebodohan. Di balik itu, dunia sebenarnya hendak mengatakan bahwa insiden itu sesungguhnya sebuah kerja sistematis dari agenda kejahatan yang rapi terselubung. Kata “di luar nalar” adalah semata sindiran tajam bagi aparat dan kita semua sebagai bangsa. Tak heran dunia pun berteriak lantang “Malang, kamu tidak sendirian, Justice for Kanjuruhan !”

Dikarenakan kita adalah manusia Pancasila yang beriman kepada Tuhan YME, kita pun yakin bahwa takdir tragedi ini punya makna tak ternilai. Terlebih dengan merenungkan hari Sumpah Pemuda yang hadir di saat bangsa dan seluruh manusia yang berhati nurani sedang teriris-iris duka atas peristiwa mengenaskan itu. 28 Oktober 1928 kita ketahui adalah tonggak sejarah kobaran jiwa pemuda pemudi Indonesia untuk bersatu dalam bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia. Sebuah modal semangat dan tekad suci untuk meraih kemerdekaan dari belenggu penjajahan.

Tampak nyata bahwa atmosfir penjajahan itu masih ada dan menjadi dalang peristiwa terenggutnya 135 nyawa anak bangsa serta ratusan terluka di Kanjuruhan 1 Oktober lalu. Bahkan hari Kesaktian Pancasila pun hendak dikelabukan oleh tangan-tangan ketamakan dan angkara murka yang bersembunyi di balik para pihak serta oknum berseragam yang disebut aparat itu. Sadar atau tak sadar jiwa-jiwa kesetanan telah kehilangan rasa sebagai manusia dengan melontarkan gas air mata kepada para supporter yang tak bersalah. Bahkan kegelapan nurani bisa membuat mereka tertawa-tawa di tengah kepanikan dan isak tangis anak-anak serta perempuan yang lemah. Sungguh ekspresi perilaku penjajah dan teroris tangan-tangan Dajjal laknatullah !

Semangat dan tekad suci pemuda 1928 itulah yang kini semestinya harus dijiwai oleh Arema, seluruh supporter Indonesia, rakyat dan semua orang yang ditindas oleh ketidakadilan. Disebut “Suci” karena jiwa luhur Sumpah Pemuda hakekatnya tak berisi amarah dan dendam, namun semata-mata murni tersadar bahwa segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena bertentangan dengan sifat kemanusiaan. Semangat dan tekad berdharma yang tak sedikit pun terbersit serta jauh dari nilai-nilai individualistis, materialistis dan kapitalistis penuh warna pencitraan semu kemunafikan.

Baca Juga: Presiden Arema FC: 135 Korban Bukan Hanya Angka, Dukung Transformasi Sepakbola Indonesia

Bukan pula sebuah kebetulan bahwa tragedi itu terjadi di bumi bernama Malangkucecwara yang berarti “Kebathilan tumbang oleh Tuhan”. Momentum tragedi Kanjuruhan menjadi berhikmah dan bernilai saat peristiwa itu menaikkan kesadaran bersama bagi wangsa Nusantara untuk menjadi “alat” bagi Tuhan guna menghancurkan kedzoliman. Arek Malang saat ini pun ditakdirkan menjadi ujung tombak dan ujung mata dunia bagi kepentingan kemanusiaan semesta. Seluruh nurani rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, bahkan dunia pun turut bahu membahu bersinergi secara vibrasi dan doa menggelora bagi perjuangan usut tuntas kasus Kanjuruhan sampai kapan pun. Qul ja-al haqqu wazahaqqol bathil, innal bathila kana zahuqo. Katakan, datanglah Kebenaran dan hancurlah kebathilan. Sungguh kebathilan pasti hancur !

Sungguh merupakan amanah mulia sekaligus tugas sangat berat bagi Arema. Sebuah takdir bagi para patriot dan ksatria sejati yang harus konsekuen dan konsisten dengan kumandang gaung slogan Salam Satu Jiwa selama ini. Sebuah pekik salam yang sadar tak sadar adalah warisan gema batin para Leluhur yang rindu akan jatidiri manusia sebagai Nafsin Wahidah (satu jiwa). Yakni sebagai Manungsa kang bisa Manunggal ing Rasa. Renungkan dalam-dalam akan hal ini saudaraku. Nikmat mana yang bisa kita dustakan?

Mari bersama dengan api semangat Sumpah Pemuda, jangan kita sia-siakan kodrat iradat wangsa Nusantara sebagai anak cucu para Ratu (Pararaton). Jangan membuat malu diri dan Sang Amurwabhumi beserta Sang Prajna Paramitha dalam jiwa dan darah Trah Jawa. Kita semua berdarah pasangan mulia nan pemberani (Merah) dan suci (Putih) yang menjiwai Arema yang ternyata mewakili arti luas tak hanya Arek Malang, namun pula Arena Manusia. Satu Jiwa yang menafasi kecintaan kepada kebenaran, perdamaian, keadilan dan kemerdekaan selamanya. Sungguh pun di tengah berbagai tekanan mental, fitnah, bullying dan himpitan batin dari kekuatan raksasa Goliath yang bertubi-tubi, tetap tak ragu dengan Bismillah berjuang untuk menyatukan para pejuang Arema dan Arema pejuang, “nyawiji greged tan mingkuh hambrastha dur Angkara” (bersatu bergerak pantang mundur membasmi angkara murka). Usut Tuntas…. !

Halaman:

Editor: Abdul Malik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marjinalisasi Masyarakat Sipil dalam Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:24 WIB

Kekuatan dan Partisipasi Aktif Individu

Senin, 23 Januari 2023 | 09:19 WIB

Marjinalisasi, Residu Demokrasi

Senin, 23 Januari 2023 | 09:13 WIB

Bayi Ajaib, Seram dan Sadis Seperti Versi 1982

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:42 WIB

Balada Si Roy, Dari Buku ke Layar Bioskop

Jumat, 20 Januari 2023 | 23:27 WIB

Pariwisata Ekonomi Kreatif

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:51 WIB

Annual Report Museum Musik Indonesia 2022

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:41 WIB

The Cats: Maribaya Bagai Himalaya

Jumat, 20 Januari 2023 | 20:33 WIB

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Elit, Dan Untuk Elit?

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:08 WIB

Mindset, Memikirkan Gedung MCC Kota Malang

Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:42 WIB

Banalitas Kekuasaan Dalam Pusaran KONI Kota Malang

Rabu, 11 Januari 2023 | 21:51 WIB

Komponis Musik Klasik

Sabtu, 7 Januari 2023 | 11:09 WIB

Sahabat UMKM Kota Malang

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:16 WIB

Puro Luhur Junjung Budoyo Ronggowuni

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:11 WIB
X