FORDA ISTIMEWA DI MALANG SIMBOL BANG BANG WUS RAHINA

- Rabu, 24 Mei 2023 | 20:44 WIB
Akhir pekan ini, tepatnya 27-30 Mei 2023 kota Malang akan mengukir sejarah besar dengan penyelenggaraan Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) I Jawa Timur.  (HO/KLIKTIMES.COM)
Akhir pekan ini, tepatnya 27-30 Mei 2023 kota Malang akan mengukir sejarah besar dengan penyelenggaraan Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) I Jawa Timur. (HO/KLIKTIMES.COM)

Akhir pekan ini, tepatnya 27-30 Mei 2023 kota Malang akan mengukir sejarah besar dengan penyelenggaraan Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) I Jawa Timur. Penulis menyebut event ini merupakan perhelatan istimewa tak hanya bagi kota Malang atau pun provinsi Jawa Timur, namun secara umum bagi bangsa Indonesia karena ini adalah event FORDA perdana yang menggelar 31 cabang olahraga rekreasi masyarakat secara serentak. H.RM. Achyadi, SH selaku Sekretaris KORMI Kota Malang menegaskan tak kurang 2250 penggiat dari 20 Kabupaten dan Kota seluruh Jawa Timur telah memastikan siap berlomba.

Keistimewaan FORDA kali ini bukan hanya karena yang perdana dilaksanakan, namun karena juga merupakan kegiatan olahraga yang titik tuju utamanya bukanlah prestasi, namun lebih mengarah pada pesta dan lomba dalam nuansa rekreatif olahraga tradisi. Semangat ini sesuai dengan amanat UU nomor 11 tahun 2022 tentang Keolahragaan yang membagi olahraga menjadi olahraga prestasi yang dipayungi KONI, olahraga pendidikan oleh DIKTI dan olahraga rekreasi masyarakat oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI). Keistimewaan atmosfir ini yang seharusnya menjadi pegangan KORMI dan seluruh Induk Organisasi Olahraga (INORGA) di bawahnya agar senantiasa terawat terjaga selamanya. Jiwa masyarakat tradisional yang bercirikan guyub rukun, gotong royong dan musyawarah mufakat “solutip” harus tercermin dalam aktivitas KORMI. Pertandingan adalah keseruan pesta lomba masyarakat yang jauh dan menjauh dari suasana ribet, persaingan dan perseteruan. Apalagi merasa paling benar dan bersikap jumawa. Olahraga rekreasi masyarakat, sebagaimana makna “rekreasi” adalah obat bagi penyakit manusia modern dari stress dan kejenuhan. Tujuan rekreasi adalah penyegaran kembali jiwa raga untuk menciptakan karya-karya baru yang bermanfaat. Walhasil prestasi dan kesuksesan hakiki dari pesta olahraga masyarakat ini adalah suasana semakin kuatnya rasa persatuan, persaudaraan sebagai satu bangsa dan sesama manusia dalam kehidupan sosial yang bahagia. Bukan sebaliknya yang justru menanam api dalam sekam bahkan angkara, dengki, iri, benci dan dendam.

SATU JIWA (Nafsin Wahidatin) adalah jiwa istimewa yang sehat, bugar, gembira, luar biasa ! Selamat berfestival berpesta Indonesia ! Merdeka dari belenggu jeratan karma dan hidup cemerlang dalam keabadian cahaya kasih cinta !
SATU JIWA (Nafsin Wahidatin) adalah jiwa istimewa yang sehat, bugar, gembira, luar biasa ! Selamat berfestival berpesta Indonesia ! Merdeka dari belenggu jeratan karma dan hidup cemerlang dalam keabadian cahaya kasih cinta ! (HO/KLIKTIMES.COM)

Dengan demikian kehadiran KORMI memiliki peran sangat strategis dalam menguatkan watak tradisional yang penuh kedamaian, kesabaran dan kearifan. Sifat sifat tersebut semakin menipis dalam lingkaran pergaulan sehari-hari saat ini yang terserang penyakit hedonistis, rasionalistis, materialistis dan individualistis. Dewasa ini segalanya banyak diukur dari citra, kekuasaan dan uang sebagai ciri ciri jaman akhir. Terlebih menjelang kontestasi politik 2024 yang semakin memanas oleh hawa nafsu ketamakan, maka FORDA I menjadi event istimewa untuk mengingatkan kesadaran luhur masyarakat akan fitrah nurani jatidirinya yang suci. Istilah istilah tradisi yang kental dengan falsafah “tuna sathak, bathi sanak”, “,mikul dhuwur mendhem jero, sepi ing pamrih, rame ing gawe, nglurug tanpa bala, sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji,  menang tanpa ngasorake, suwung pamrih, tebih ajrih” sedang diuji, ditumbuhkan dan dikuatkan dalam laboratorium budaya olahraga masyarakat melalui KORMI. Pola pikir, laku dan kebijakan dalam tubuh KORMI diharapkan ke depan semakin bernafas khasanah nilai tradisi dan menjadi penyemai modal sosial masyarakat yang substansial. Selaras dengan amanat undang-undang dan kebutuhan “nation character building” mencetak generasi emas Nusantara jelang se abad kemerdekaan Republik Indonesia 2045.

Lahirnya UU nomor 11 tahun 2022 tentang Keolahragaan selayaknya dipandang sebagai gagasan brilyan pemerintahan era Presiden Joko Widodo, dengan catatan penting jika mampu dikelola selaras dengan spirit tradisional yang berjiwa ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial di dalamnya. Jiwa nafas yang tertuang nilainya dalam dasar negara PANCASILA. Tapi jika proses pengelolaannya tidak selaras dengan nilai-nilai tersebut, maka justru sebaliknya malah dapat meracuni merusak atmosfir kegiatan olahraga masyarakat itu sendiri. Ini yang harus kita sikapi dengan “Eling lan Waspadha”. Disinilah letak keistimewaan serta tanggungjawab dari FORDA perdana se JATIM yang akan datang. Segala target-target yang dicanangkan oleh pemerintah kabupaten dan kota haruslah  dijiwai sebagai semata penyemangat untuk berjuang meraih yang terbaik dengan landasan niat untuk membangun sportifitas dan harmoni kemanusiaan di atas segalanya. Sesuai dengan yel-yel khas KORMI yang menggaungkan kesehatan, kebugaran, kegembiraan nan luar biasa. Para penyelenggara, panitia, pelatih, pendamping, pegiat hingga “tim hore” seyogyanya tak pernah bergeming dari niat dan tujuan mulia FORDA tersebut. Sungguh-sungguh bahwa menang atau kalah bukanlah segalanya, sehingga segala pikiran, hati, ucapan dan perilaku yang hendak menggiring ke arah pemujaan atas “prestasi” dan mendewa-dewakan keunggulan harus dijauhi sejak dini.

 

Keistimewaan yang lebih filosofis dan sangat strategis pula adalah bahwa FORDA I ini dilaksanakan di wilayah Malang yang merupakan bumi bersejarah bagi Jawa dan Nusantara. Tak henti-henti penulis mengingatkan bahwa kota Malang dan Malang Raya secara umum adalah wilayah mata air peradaban Nusantara, DNA kebhinekaan bangsa, sumber kreatifitas karya dan inspirasi bagi dunia. Semesta menggiring pesta kesehatan kebugaran dan kegembiraan masyarakat Indonesia ini berlokasi di wilayah asal usul kerajaan-kerajaan besar Jawa. Seolah mengingatkan bahwa obat bagi hidup yang sehat, bugar dan gembira adalah selalu berpegang pada ajaran dan nilai-nilai luhur para leluhur agar memiliki karakter yang “wening” atau jernih. Yakni jernih bening bagai sumber air yang tersebar di berbagai wilayah titik tengah gunung Bromo, Semeru, Kawi dan Arjuna nan sejuk ini. Bening jernih pribadi ini adalah “wening” secara medan energi, situasi emosi, wawasan pengetahuan dan perilaku karma. Inilah karakter pribadi merdeka damai sejati yang luar biasa dan dibangun dalam segala bentuk “wiraga, wirama, wirasa” olahraga rekreasi masyarakat Nusantara sejak dahulu kala. Para ksatria patriot leluhur Nusantara menitipkan pada generasi saat ini untuk terus menyempurnakan kejernihan kepribadian jiwa tersebut guna semakin terbebas bersama dari belenggu masa lalu, kini dan masa depan yang lebih cemerlang.

 

Istimewa lainnya, khususnya bagi kota Malang, bahwa pelepasan kontingen FORDA I JATIM oleh Walikota dilaksanakan bersamaan dengan upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang dihadiri oleh segenap jajaran FORKOMINDA Kota Malang dengan pemimpin upacara langsung oleh Kepala DISPORAPAR kota Malang Baihaqi, S.Pd, S.E, M.Si. Walikota Malang Drs. H. Sutiaji didampingi Wakil Walikota Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko selaku Ketua Umum KORMI Kota Malang menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan hal pertama dan istimewa karena pelepasan perwakilan dari 698 orang pegiat olahraga disaksikan oleh jajaran FORKOMINDA secara lengkap. Pesan inti Walikota untuk menjaga nama dan martabat kota Malang juga sangat reflektif. Yakni agar pelaksanaan FORDA I JATIM ini diwarnai dengan penghayatan semangat SATU JIWA, slogan kebanggaan AREMA. Penulis selaras dengan ujaran Walikota tentang hal ini, bahwa nilai sesungguhnya dari AREMA adalah mewarnai bangsa agar mengingat hakekat hidup sebagai SATU JIWA. Jika sungguh setiap manusia Indonesia mampumenghayati SATU JIWA atau “manunggal ing rasa” sebagaimana ajaran leluhur yang diaktualisasikan dalam perilaku nyata sehari-hari, maka energi semesta akan bangkit menahan laju entropi kehancuran peradaban. FORDA I JATIM di wilayah MALANGKUCECWARA Timur Jawa, dengan demikian tak hanya sekedar pesta gebyar sesaat, namun merupakan bagian tanda-tanda serta simbol kebangkitan bangsa sebagaimana terbitnya matahari yang mulai bercahaya menerangi NGALAM raya.

 

Bang bang wus rahina

Bang bang wus rahina

Srengengene muncul sunar sumamburat

Hambrastha dur angkara, hamadhangi jagad

Halaman:

Editor: Abdul Malik KT

Tags

Artikel Terkait

Terkini

AI dan Budaya Kampung Pedesaan

Senin, 5 Juni 2023 | 09:36 WIB

Revitalisasi Sepak Bola Kota Malang

Kamis, 1 Juni 2023 | 20:04 WIB

Pancasila, Kebudayaan, dan Bina Bangsa

Kamis, 1 Juni 2023 | 12:05 WIB

Pertumbuhan Jaranan dan Bantengan di Malang

Rabu, 31 Mei 2023 | 09:34 WIB

Pendidikan Yang Berpihak Pada Peserta Didik

Selasa, 30 Mei 2023 | 09:19 WIB

Hobbes, Strategi Perubahan Sosial dan Rawon

Senin, 22 Mei 2023 | 14:39 WIB

SMK Sura Dewa Menyadari Pentingnya Literasi

Sabtu, 20 Mei 2023 | 23:50 WIB

Karya Seni, Penjara dan Terciptanya Kebudayaan

Kamis, 18 Mei 2023 | 22:18 WIB

RUNAPHORIA: Wahana Ekpresi Runa

Kamis, 18 Mei 2023 | 21:35 WIB

Hidup Yang Begejekan

Kamis, 11 Mei 2023 | 10:08 WIB
X