Komunitas Budaya Malang Raya Megengan Nyadran di Kampung Budaya Polowijen

- Kamis, 23 Maret 2023 | 10:31 WIB
Tradisi ini juga rutin dilakukan oleh Kampung Budaya Polowijen sebagai kampung yang mendapatkan Anugrah Pelestari dan Pemanfaatan Kebudayan dari Dikbud Kota Malang 2021. Satu hari jelang bulan puasa, Rabu (22/3/2023) KBP selenggarakan Megengan dan Nyadran bersama dengan komunitas budaya lainnya. (HO/KLIKTIMES.COM)
Tradisi ini juga rutin dilakukan oleh Kampung Budaya Polowijen sebagai kampung yang mendapatkan Anugrah Pelestari dan Pemanfaatan Kebudayan dari Dikbud Kota Malang 2021. Satu hari jelang bulan puasa, Rabu (22/3/2023) KBP selenggarakan Megengan dan Nyadran bersama dengan komunitas budaya lainnya. (HO/KLIKTIMES.COM)

KLIKTIMES.COM | MALANG- Megengan dan Nyadran adalah tradisi orang Islam di Jawa ketika menjelang bulan puasa. Setidaknya ada dua kegiatan yang berbeda dan saling berhubungan. Megengan di tandai dengan syukuran memberikan makanan kepada tetangga dan saudara yang biasanya berupa nasi tapi ada kue apem dan buah pisang. Sementara Nyadran adalah ziarah dengan membersihkan makam lelulurnya.
Tradisi ini juga rutin dilakukan oleh Kampung Budaya Polowijen sebagai kampung yang mendapatkan Anugrah Pelestari dan Pemanfaatan Kebudayan dari Dikbud Kota Malang 2021. Satu hari jelang bulan puasa, Rabu (22/3/2023) KBP selenggarakan Megengan dan Nyadran bersama dengan komunitas budaya lainnya.
"Megengan dan Nyadran ke-3 kali ini berbeda karena bersamaan dengan peringatan Hari Raya Nyepi yang sama-sama melatih untuk pengendalian diri dan mengingatkan untuk menahan segala godaan ketika besok sudah mulai berpuasa". Isa Wahyudi juga mengungkapkan bahwa apem dan pisang raja sebagai simbul megengan juga bermakna memberikan perlindungan.
Hadir dalam acara Sany Repriandini, Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara, Tara Daraparahita Sekretaris Komunitas Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Ki Haryo Seto Dewan Pengurus Masyarakat Adat Nusantara, Ki Lelono Komunitas Mocopat Kota Batu Perwakilan dari masing-masing Kampung Tematik se-Kota Malang serta perwakilan dari sanggar- sanggar seni dan kantong- kantong topeng di Malang.
Megengan dan Nyadran di KBP yang penuh dengan nuansa tradisi mulai dari tempat, sajian hidangan, ragam makanam serta busana peserta semua sarat dengan budaya. Acara dimulai dengan tembang mocopat, dilanjutkan dengan berdoa bersama dengan "ngujubne" segala macam uborampe yang dihidangkan yang di pimpin langsung oleh Isa Wahyudi selaku Penggagas KBP.

Baca Juga: Uji Kompetensi Batik di KBP, Ridwan Hisyam Dorong Ekosistem Batik di Malang

Setelah tarian dilanjutkan dengan Kirab topeng Malang menuju Makam Empu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) untuk Nyadran.
Setelah tarian dilanjutkan dengan Kirab topeng Malang menuju Makam Empu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) untuk Nyadran. (HO/KLIKTIMES.COM)

Setelah pemotongan tumpeng yang diberikan ke PBN dan KKI dilanjutkan dengam penampilan Tari Sadran dari Sanggar Tari Denendar pimpinan Endar Zulaifah. Setelah tarian dilanjutkan dengan Kirab topeng Malang menuju Makam Empu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) untuk Nyadran.
Nyadran adalah tradisi orang jawa dengan melakukan pembersihan makam leluhurnya sebelum datang di bulan Ramadhan tepatnya di bulan Ruwah.
"Tradisi Nyadran merupakan tradisi keagamaan sebagai bentuk penghormatan pada leluhur, bentuk syukur kepada Tuhan, dan mengingatkan tentang darimana manusia berasal dan kembali," ungkap Ki Haryo Seto yang berkediaman di Mangliawan.
Upaya pelestarian di antaranya dengan melaksanakan upacara setiap tahun yang dimaksudkan untuk melestarikan, melaksanakan upacara setiap minggu terakhir bulan Ruwah sebelum bulan puasa.

Setelah pemotongan tumpeng yang diberikan ke PBN dan KKI dilanjutkan dengam penampilan Tari Sadran dari Sanggar Tari Denendar pimpinan Endar Zulaifah.
Setelah pemotongan tumpeng yang diberikan ke PBN dan KKI dilanjutkan dengam penampilan Tari Sadran dari Sanggar Tari Denendar pimpinan Endar Zulaifah. (HO/KLIKTIMES.COM)

Ki Lelono dalam sambutanya memberi makna simbolik tentang sesaji atas ubarampe pelaksanaan tradisi Megengan dan Nyadran di KBP yang terdiri dari nasi tumpeng agung, nasi tumpeng punar, nasi tumpeng kapuronto, sekar setaman, gedhang raja, apem, wedang kopi, wedang teh, wedang putih, jajan pasar, kue cucur, rokok, godhong gedang dll. "Bersyukur KBP menyelenggarakan Megengan dan Nyadran dengan cara sangat tradisional dimana apa yang kita sajikan merupakan simbul doa," pungkas Ki Lelono. (lik)

Editor: Abdul Malik KT

Tags

Artikel Terkait

Terkini

AI dan Budaya Kampung Pedesaan

Senin, 5 Juni 2023 | 09:36 WIB

Revitalisasi Sepak Bola Kota Malang

Kamis, 1 Juni 2023 | 20:04 WIB

Pancasila, Kebudayaan, dan Bina Bangsa

Kamis, 1 Juni 2023 | 12:05 WIB

Pertumbuhan Jaranan dan Bantengan di Malang

Rabu, 31 Mei 2023 | 09:34 WIB

Pendidikan Yang Berpihak Pada Peserta Didik

Selasa, 30 Mei 2023 | 09:19 WIB

Hobbes, Strategi Perubahan Sosial dan Rawon

Senin, 22 Mei 2023 | 14:39 WIB

SMK Sura Dewa Menyadari Pentingnya Literasi

Sabtu, 20 Mei 2023 | 23:50 WIB

Karya Seni, Penjara dan Terciptanya Kebudayaan

Kamis, 18 Mei 2023 | 22:18 WIB

RUNAPHORIA: Wahana Ekpresi Runa

Kamis, 18 Mei 2023 | 21:35 WIB

Hidup Yang Begejekan

Kamis, 11 Mei 2023 | 10:08 WIB
X