• Kamis, 29 September 2022

Terbongkar, Begini Kronologi Praktik Calo P3K di Kabupaten Ponorogo

- Rabu, 21 September 2022 | 17:29 WIB
ilustrasi.
ilustrasi.

KLIMTIMES.COM | PONOROGO - Praktik lacur percaloan rekrutmen guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo yang menyeret 30 orang tersebut bermula dari pelaku D asal Jombang yang mengaku sebagai Anggota Panitia Seleksi Nasional (Panselnas).

Pelaku D sebagai broker awalmya berkomunikasi dengan Pensiunan PNS Kabid Ketenaga Kerjaan Dindik berinisial S, yang selanjutnya terjadi pertemuan dengan para guru P3K pada Juni 2021 lalu sebelum pelaksanana rekrutmen P3K digelar.

"Ini terbukti dengan dokumen yang kita temukan, selama Juni sampai Agustus itu ada dokumen tentang penitipan ijasah. Sekaligus ada komitmen yang harus dipenuhi bila diterima P3K, mereka harus membayar Rp60 hingga Rp70 juta," kata Kepala BKPSDM Ponorogo Andy Susetyo, Rabu (21/9/2022).

Setelah kami kembangkan ternyata ada keterkaitannya dengan ASN aktif Fungsional pada Dindik Ponorogo berinisial S, lanjut Dia, celakanya ada puluhan guru yang tertarik melalui jalur belakang ini.

"Kemudian ditunjuklah 11 kordinator dengan ketua kordinator berinisial A seoarang guru pada Kelurahan Mangkujayan Kecamatan Ponorogo. Kemudian 11 kordinator ini peranya mengumpulkan uang dan ijasah yang kemudian disetorkan ke A. Namun ada sebanyak 16 guru P3K yang diterima menolak membayar komitmen itu," ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Andy, praktek percaloan tersebut terbongkar karena 16 guru P3K yang menolak membayar tersebut pun diancam. Jika tidak membayar akan dibatalkan SK pengangkatannya.

“Otak dari praktik percaloan dan akhirnya terbongkar adalah D. Yang mengaku-ngaku sebagai Panselnas. Kemudian calon P3K sendiri yang sekaligus korban dan pelaku percaloan. Ada sebanyak 27 guru P3K ini tidak menikmati hasil dari praktik percaloan. Mereka hanya menyetorkan uang dan ijasaha yang dikumpulkan dari korban, ke A yang diteruskan ke D," pungkas Andy.

Atas keterlibatannya mereka pun telah disanksi berat hingga sanksi ringan menurut kesalahan masing masing. Sedangkan ntuk pejabat fungsional Dindik berinisial S diturunkan jabatanya menjadi staff. (rin/sre)

Editor: Moh Haikal Aslikh Rosyada

Tags

Terkini

X