• Kamis, 8 Desember 2022

Esai: Djoko Saryono

- Jumat, 26 Agustus 2022 | 20:25 WIB
idae8kn84gcfs
idae8kn84gcfs

Oleh kliktimes.com/tag/Djoko-Saryono">Djoko Saryono

 

Apa yang kita ketahui tentang karya ilmiah? Suatu karya ilmiah atau ilmu selalu berpretensi, malah acapkali kelewat berambisi, memahami dan menjelaskan semesta, kehidupan, dan manusia beserta segala peristiwa di dalamnya. Melalui peralatan dan perangkat ilmiah yang dimiliki dan sering dibilang canggih, semesta, kehidupan, dan manusia dicoba dijinakkan dan ditundukkan – mungkin dibekukan kalau tidak malah dilumpuhkan atau dibunuh – ke dalam logika, rasionalisasi, objektivasi, konseptualisasi, generalisasi, formulasi, argumentasi, dan sofistikasi filosofis-akademis dengan presisi sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan semesta, kehidupan, dan manusia tampak sebagai fakta dan data semata. Wajarlah, di tangan ilmu atau ilmuwan, semesta, kehidupan, dan manusia menjadi dingin, tunggal, kaku, kering, terasa mati, tertutup, sederhana, dan mungkin menjenuhkan lagi membosankan. Berhadapan dengan ilmu, pembaca karya keilmuan pada akhirnya menjadi manusia tak berdaya karena tak punya celah kebebasan. Dalam istilah Ignas Kleden, “ilmu atau karya ilmiah adalah tulisan yang berada dalam tapal batas spesialisasi dan dalam tembok kompartentalisasi”.

Baca juga:
Sajak-Sajak DJOKO SARYONO

Berbeda dengan ilmu, suatu esai atau karya sastra hanya berpretensi, hanya berambisi (kalau bisa dibilang begitu) dan berhasrat merayakan, menyaksikan, dan mengabarkan semesta, kehidupan, dan manusia beserta segala pernak-pernik peristiwa di dalamnya. Melalui peralatan dan perangkat esai yang dimiliki, semesta, kehidupan, dan manusia dicoba dilepaskan, dibebaskan, dan dibiarkan – mungkin malah diliarkan nan dialirkan – ke dalam refleksi, subjektivikasi, kontemplasi, orinalisasi, otentifikasi, imajinasi, retorika, deformulasi, dan narasi tekstual dengan kelonggaran sangat besar, bukan presisi. Ini membuat semesta, kehidupan, dan manusia lebih tampak sebagai pijar-pijar makna yang beraneka ragam sekaligus berkelebatan. Tak aneh, di tangan sebuah esai, semesta, kehidupan, dan manusia kelihatan begitu hidup, terbuka, cerah, hangat, semarak, rancak, riuh, syahdu, sublim, aneka warna, menyenangkan, dan malah mungkin menggairahkan-menggemaskan. Maka, berhadapan dengan esei, pembaca pada akhirnya menjadi manusia perkasa karena punya kebebasan sedemikian besar memperlakukan esei.

 Ringkas kata, ilmu [karya ilmiah] dirundung berambisi untuk memberikan pemahaman dan penjelasan atas pola-pola atau keteraturan-keteraturan semesta, kehidupan, dan manusia beserta segala peristiwa di dalamhya, sedang esai hanya digenangi ambisi untuk memberikan kesaksikan dan kabar atas detak-detak alamiah semesta, kehidupan, dan manusia kendatipun keduanya bertumpu pada peristiwa. Ambillah satu contoh, yakni peristiwa politik seputar tahun 1965 [sebut saja Peristiwa 1965]. Di tangan pakar terkemuka seperti Ben Anderson, Nugroho Noto Susanto, dan Hermawan Sulistyo – misalnya – Peristiwa 1965 dipahamkan dan dijelaskan segamblang-gamblangnya kepada kita dengan wacana diskursif yang berisi pola dan keteraturan yang memiliki presisi sangat tinggi sehingga tampak beku dan dingin. Kita pun berhadapan dengan sekian banyak formulasi hipotetis mengenai Peristiwa 1965. Sebaliknya, di tangan eseis atau ahli esei seperti Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Umar Kayam, Arief Budiman, dan Emha Ainun Najib serta Mohamad Sobari – misalnya – Peristiwa 1965 di-berita-pikiran-kan dan dikabarkan kepada kita dengan wacana tekstual, kadang wacana naratif, yang sangat longgar sehingga tampak hidup dan terbuka. Di sini kita berpapasan dengan sekian banyak kelebatan makna-konotatif-metaforis mengenai Peristiwa 1965. Pendeknya, ilmu [karya ilmiah] membuat logos kita bekerja menyandera semesta, kehidupan dan manusia; sedangkan esai justru membuat eros dan pathos kita bangkit menyuburi, membasahi atau membasuhi, dan menghidupi semesta, kehidupan, dan manusia. Dalam kata-kata Ignas Kleden, sosiolog dan pemikiran social terkemuka Indonesia, “... ilmu adalah penemuan, puisi adalah penciptaan, tetapi esai mengembalikan tiap orang – penulis dan pem baca – menjadi manusia biasa. kliktimes.com/tag/Esai">Esai adalah perjumpaan dan persahabatan.” Karena itu, dalam istilah Ignas Kleden, ilmu atau karya ilmiah adalah tulisan yang berada dalam tapal batas spesialisasi dan dalam tembok kompartentalisasi, sedangkan “... esai adalah tulisan yang menerobos batas-batas spesialisasi dan sekaligus menjebol tembok-tembok kompartementalisasi.”

Tentulah amat naif, sederhana, bahkan mungkin tolol apabila semesta, kehidupan, dan manusia sekadar kita pahami dan jelaskan dengan ilmu [karya ilmiah] yang spesialistis dan kompartemental. Semesta, kehidupan, dan manusia perlu juga kita rayakan dan kabarkan dengan esai dan atau sastra yang melampau spesialisasi dan kompartementalisasi. Soalnya, ternyata, dalam hidup manusia, kita tak hanya butuh serba kepastian dan kejelasan presisif yang dipersembahkan oleh ilmu [karya ilmiah], tetapi kita juga sangat butuh kemungkinan, kemenduaan, dan keremangan-keremangan metaforis, kontemplatif, dan atau reflektif – mungkin juga ketakpastian dan ketakjelasan akibat metafora, kontemplasi, dan atau refleksi – yang disuguhkan oleh esai. Di samping itu, kehidupan manusia juga memerlukan riuh perayaan penuh kebebasan-keliaran di samping membutuhkan perumusan penuh keteraturan ketat [rigid]. Itulah sebabnya, saya kira, walau ilmu [karya ilmiah] terus-menerus didedahkan dan dilesakkan kepada diri kita setiap hari, bahkan mencengkeram kesadaran hidup dan akal pikiran kita, esai justru terasa makin kuat menggoda kita, makin lihai dan dalam menyusup ke dalam bilik-bilik kesadaran dan lubuk batin kita; itulah sebabnya, esai terus-menerus ditulis dan dinikmati banyak orang sekalipun ilmu [karya ilmiah] terus-menerus mencoba memenuhi kesadaran dan akal pikiran kita. kliktimes.com/tag/Esai">Esai tetap mencuri perhatian orang tertentu untuk menulis atau sekadar menikmati atau mengapresiasinya sekalipun ilmu secara ofensif dan obsesif berusaha berkampanye agar kita mengabaikan atau mungkin melupakannya.  Rupanya, memang, baik ilmu maupun esai kita butuhkan untuk berselancar dalam mengarungi kehidupan berserta bukit-bukit persoalan di dalamnya. kliktimes.com/tag/Esai">Esai membimbing kita “merenangi alun-gelombang lautan kehidupan”, sedang ilmu membantu kita untuk mengetahui dan memahirkan “ilmu merenangi alun-gelombang lautan kehidupan secara lebih baik.” kliktimes.com/tag/Esai">Esai memberi kita perjumpaan dan persahabatan dengan manusia dan kehidupan, ilmu memberi kita penemuan tentang manusia dan kehidupan.

 

 

*kliktimes.com/tag/Djoko-Saryono">Djoko Saryono. Lahir di Kota Madiun, 27 Maret 1962, besar dan mukim di kota Malang hingga sekarang. Guru Besar Universitas Negeri Malang. Bukunya yang sudah terbit, antara lain: Budaya, Seni dan Bahasa Dalam Kelindan Kuasa, Paras Nilai Budaya, Sosok Nilai Budaya Jawa, Di Hadapan Arogansi Kekuasaan: Kumpulan kliktimes.com/tag/Esai">Esai, Pergumulan Estetika Sastra di Indonesia, Mozaik Sastra Indonesia, Suara Sufistik dan Religius Dalam Sastra,Perempuan dalam Fiksi Indonesia, Etika Jawa Dalam fiksi Indonesia,  Arung Diri , Tafsir Kenthir Leo Kristi, Kemelut Cinta Rahwana.

Halaman:

Editor: Abdul Malik (lik)

Tags

Terkini

Urgensi Tahu Arah Pasti dalam Meniti Hidup

Rabu, 7 Desember 2022 | 21:45 WIB

Belajar pada Perilaku Enthung dalam Lirik Lagu

Rabu, 7 Desember 2022 | 21:39 WIB

Ikhtiar Meredam Murka Gunung Api Semeru

Selasa, 6 Desember 2022 | 22:25 WIB

Semeru sebagai Gunung Suci, Pasak Pulau Jawa

Senin, 5 Desember 2022 | 22:06 WIB

Makna ‘Biru-nya Malang’ : Suatu Warna Favorit

Kamis, 1 Desember 2022 | 10:02 WIB

Agenda Pekan Ini: Festival Tempe Sanan

Rabu, 23 November 2022 | 21:41 WIB

Duka Mendalam Gempa Cianjur

Selasa, 22 November 2022 | 19:30 WIB

Tradisi Kendit Yang Kian Raib

Senin, 21 November 2022 | 18:05 WIB

Jejak Kendit Pada Ikonografi Era Majapahit

Senin, 21 November 2022 | 17:36 WIB

Swayambhara Desain Batik Saman Yang Khas Malang

Minggu, 20 November 2022 | 23:15 WIB

Selamat Hari Anak Sedunia Minggu, 20 November 2022

Minggu, 20 November 2022 | 23:02 WIB

Kembalikan Kuasa Rakyat

Minggu, 20 November 2022 | 22:18 WIB

Isu Kesejahteraan, Kebodohan Ego, Frustasi

Minggu, 20 November 2022 | 21:57 WIB

Kalap, Lucu dan Ngeri

Minggu, 20 November 2022 | 21:35 WIB

Gaduh, Sensitif, Hilangnya Ruang Sakral

Minggu, 20 November 2022 | 21:03 WIB
X